Jakarta, 8 November 2023 – Menjelang Pemilu Februari 2024, semakin gencar upaya yang dilakukan ketiga calon kandidat Presiden dan Wakil Presiden demi menggaet suara orang muda. Mulai dari wara wiri ke acara kampus, membuat akun media sosial partai menggunakan bahasa dan persona kekinian, hingga membuat konten video pendek jenaka yang digandrungi orang muda, semua sudah dilakukan demi mendapatkan suara generasi yang menjadi penentu siapa Presiden dan Wakil Presiden Indonesia di tahun 2024 kelak. Namun apa benar ada kandidat yang sudah mewakili suara orang muda?

Kawula17.id melakukan monitoring mengenai tingkat keinginan masyarakat untuk berpartisipasi dalam Pemilu sejak tahun 2022 untuk melihat dinamika politik yang terjadi di Indonesia, khususnya terkait partisipasi dan keputusan memilih masyarakat dalam Pemilu. Semakin mendekati masa Pemilu, hasil survei Nasional Kawula17.id menunjukkan antusiasme masyarakat Indonesia untuk memilih dalam Pemilu meningkat secara konsisten sejak tahun 2022. Pada kuartal 3 tahun 2023 ini, 80% masyarakat sudah yakin untuk ikut berpartisipasi dalam pemilu, namun terdapat 18% masyarakat yang masih ragu.

Kelompok masyarakat yang masih ragu untuk berpartisipasi dalam Pemilu didominasi orang muda usia 16-24 tahun (28%). Di sisi keyakinan dalam memilih kandidat dalam pemilu, sebanyak 62% dari mereka yang berusia 35-44 tahun sudah mengetahui pilihannya. Sementara mereka yang berusia lebih muda (16-24 tahun) hanya 38% yang sudah yakin dengan pilihannya.

Hal ini menunjukan bahwa orang muda memiliki kecenderungan menjadi swing voters. Kemungkinan karena orang muda cenderung lebih rasional dalam memilih. Pemilih rasional merasa bahwa calon atau partai harus mewakili nilai atau kepentingan. Swing voters sangat mungkin untuk berpindah dukungan, memutuskan pilihannya di waktu-waktu terakhir sebelum pemilu atau memutuskan untuk tidak memilih siapa pun (golput).

Lantas apa alasan orang muda masih bimbang? Sebut saja Miscya, salah satu pekerja muda di Jakarta berusia 24 tahun yang sampai saat ini belum bisa menentukan pilihannya dalam pemilu, ”Aku memilih dengan melihat kinerja, aku pengen tahu rencana yang terlihat jelas (dari capres dan cawapres), baru yakin buat milih. Program yang ada sekarang ada yang kelihatan masuk akal, ada juga yang tidak. Sekarang aku masih mengamati program-programnya” tandasnya.

Selain itu, alih alih mensosialisasikan program yang diusung, apa yang ditunjukan oleh media saat ini kebanyakan hanya berfokus pada popularitas kandidat. “Sekarang aku lihat lebih ke pencitraan, mereka (capres dan cawapres) lagi membangun citranya secara personal, sementara aku sendiri lebih suka jika capres dan cawapres membangun citranya ke arah rencana apa yang mau dilakukan kedepan.” imbuhnya.

Tanggapan dari Miscya menunjukan pentingnya bagi kandidat maupun partai politik untuk membawa program dan aspirasi orang muda. Dengan mendengarkan aspirasi dan membuat program yang berorientasi pada orang muda, diharapkan akan membuat orang muda lebih yakin dalam mengambil keputusan untuk memilih. Apakah kamu termasuk salah satu yang belum menentukan pilihan?

Survei ini adalah rangkaian dari survei nasional per kuartal yang dilakukan oleh Kawula17, yang merupakan afiliasi dari PP17. Periode pengumpulan data survei ini dilakukan pada tanggal 13 – 20 Oktober 2023 dengan ukuran sampel representatif sebesar 410 responden dari seluruh Indonesia dan diikuti oleh responden berusia 17 – 44 tahun dengan margin of error 5%.

Laporan survei dapat dilihat secara lebih lengkap disini.

Narahubung: Oktafia Kusuma (oktafia@kawula17.id) research fellow Kawula17